Jumat, 22 Juli 2016

KHOTBAH, MARKUS 4:30-41 - Pdt. Sudiaro Laiya



Tema :
Percayalah Terhadap Kuasa Yesus
Markus 4 :30-31

A.Pendahuluan

          Pada pasal 3, Yesus memanggil keduabelas rasul untuk bersama-sama Dia memberitakan Injil (3:13-19). Lalu Yesus mengajar dan menyembuhkan penyakit banyak orang, sehingga kemanapun Yesus pergi, orang banyak selalu mengerumuni Dia. Karena Yesus konsentrasi kepada tugasNya, lalu kaum keluargaNya menganggap Dia tidak waras. Ketika Dia mengusir setan lalu orang parisi menganggapnya kerasukan setan (3::20-22). Ibu dan saudara-saudaraNyapun berusaha menemui Dia untuk membawa Dia pulang ke rumah (3:31-35). Tetapi semuanya itu tidak menjadi halangan bagi Yesus untuk terus melaksanakan tugasNya.
          Sebelum nats khotbah ini, Yesus mengajar dengan beberapa perumpamaan. Perumpamaan tentang penabur (4:1-20), tentang pelita dan ukuran (4:21-25) dan tentang benih yang tumbuh (4:26-29).
          Nats khotbah pada ps 4:30-41, terdiri dari : pertama, Yesus mengajar melalui perumpamaan tentang biji sesawi (ay 30-34) dan kedua, Yesus meredakan angin ribut (ay 35-41). Perumpamaan tentang biji sesawi menggambarkan bagaimana tumbuhnya dan berkembangnya kerajaan Allah di dunia ini melalui kehadiran dan kuasa Yesus. Dan melalui peristiwa meredakan angin ribut di danau Galilea, hendak menyatakan kepada kita bahwa kuasa Yesus dapat menaklukkan kuasa alam yang mengancam keselamatan murid-muridNya.

B. Uraian dan Penerapan

          Dari penjelasan ringkas pada pendahuluan di atas, dapat kita memahami bahwa nats khotbah minggu ini hendak mengajak kita supaya percaya terhadap kuasa Yesus, yang melebihi segala kuasa yang ada di sorga dan di bumi (bandingkan Mat 28:18). Ada beberapa hal yang perlu dijelaskan mengapa kita harus percaya terhadap kuasa Yesus.
1. Karena Yesus menjadi tempat bernaung bagi kita (ay 30-34).
2. Supaya kita tetap mempercayakan diri kepada kuasa Yesus (ay 35-41).

1. Karena Yesus tempat bernaung bagi kita (ay 30-34).

          Dalam perumpamaan Yesus tentang biji sesawi, dijelaskan bahwa bibit ini sangat kecil, tetapi setelah ditaburkan ia tumbuh dan menjadi besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang di bawah naungannya.
          Perumpamaan itu menggambarkan tentang kerajaan Allah. Kerajaan Allah itu ada di dunia ini melalui kehadiran Yesus. Dan kerajaan Allah itu tumbuh dan berkembang di dunia ini karena kuasa Yesus. Gereja atau orang-orang percaaya kepada Yesus berada dan hidup di dalam kerajaan Allah itu. Yesus ada di dalamnya sebagai Raja yang berkuasa. Kerajaan Allah adalah tempat bersekutu, tempat bernaung bagi kita yang percaya kepada Yesus. Sehubungan dengan itu, apapun yang terjadi di dunia ini kita tidak perlu takut, karena ada Yesus sebagai tempat berauang setiap saat, setiap peristiwa, setiap situasi dan kondisi.

2. Supaya kita mempercayakan diri kepada kuasa Yesus (ay 35-41)
        
          Perlu juga kita mengerti bahwa kalau Yesus sebagai pempat bernaungnya  kita, hal itu bukan berarti bahwa kita bebas dari segala cobaan dan ancaman. Selama kita berada di dunia ini segala cobaan, penderitaan dan ancaman tetap ada. Itulah yang digambarkan melalui peristiwa meredakan angin ribut di danau Galilea. Yesus hadir dan bersama dengan murid-muridNya, namun ada yang mengancam keselamatan mereka dalam pelayaran itu, yaitu angin ribut dan badai. Tetapi karena para murid mempercayakan diri kepada kuasa Yesus, maka ancaman itu dapat diatasi oleh kuasa Yesus.
          Hidup di dunia ini memang penuh tantangan, badai dan ombak zaman, pasti mengguncang kenyamanan bahkan mengancam keselamatan kita. Tetapi percayalah bahwa Yesus tetap ada bersama dengan kita (bandingkan Mat 28:20), Dia tetap setia menjaga dan mendampingi kita.
          Karena itu marilah kita tetap mempercayakan diri kepada kuasa Tuhan Yesus, karena Ia sanggup mengatasi segala tantangan dan persoalan hidup kita setiap saat.

C. Kesimpulan

          Kehadiran Kerajaan Allah di dunia ini, dimulai dengan kehadiran Tuhan Yesus. Awalnya Kerajaan Allah itu kecil, bahkan tidak dikenal orang. Tetapi dengan kuasa Yesus, Ia memanggil murid-muridNya dan semua orang untuk percaya dan menerimaNya sebagai Tuhanh dan Juruselamat. Dengan demikian semakin lama semakin besarlah kerajaan Allah di dunia ini. Dan Kerajaan Allah di dunia ini dimana Kristus sebagai Raja yang berkuasa,  menjadi tempat bernaung dan tempat bersekutu bagi kita orang-orang yang percaya.
          Di dunia ini banyak tantangan, banyak cobaan bahkan ancaman keselamatan kita. Namun Yesus dengan setia bersama kita. Kalau kita menjadikanNya menjadi tempat kita bernaung dan mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada kuasaNya, maka semua cobaan, semua tantangan dan semua ancaman akan dapat diatasi bersama Yesus.

Khotbah Minggu, tgl. 24 Februari 2008
Dipersiapkan dan disermonkan oleh Pdt. Sudiaro Laiya
kepada para pelayan di Jemaat BNKP Anugerah Tabing

----------------






















Kamis, 21 Juli 2016

KHOTBAH MINGGU TGL. 24 JULI 2016 DI JEMAAT BNKP ANUGERAH TABING-PADANG


KHOTBAH MINGGU TGL. 24 JULI 2016, KEJADIAN 18:20-32

Di Jemaat BNKP Anugerah Tabing-Padang

Tema :
HUKUMAN DAN KEADILAN TUHAN
oleh Pdt. Sudiaro Laiya

             Pada ayat-ayat sebelum khotbah (ay.17-19) Tuhan memberitahu Abraham perihal penghukuman atas Sodom dan Gomora. TUHAN menjadikan Abraham sebagai “teman serahasia”, dan oleh karena itu, kepadanya diberitahukan tentang apa yang akan ditimpakan-Nya kepada penduduk Sodom dan Gomora, karena dosa penduduk Sodom dan Gomora semakin memuncak, dan mereka tidak mau menyesali keberdosaan mereka dan tidak mau kembali ke jalan yang benar. Maksud dan tindakan TUHAN, yang sebelumnya tersembunyi, kini diberitahukan kepada Abraham, orang pilihan-Nya. Maksud TUHAN memberitahukan rahasia itu kepada Abrahan supaya ia mengajarkan kepada anak dan keturunannya untuk tetap hidup menurut jalan yang ditetapkan TUHAN dan supaya hidup benar dan adil di hadapan-Nya dan dengan demikian TUHAN memenuhi apa yang dijanjikan-Nya kepada Abraham (lihat ay 19).
             Dan berdasarkan nats khotbah Kejadian 18:20-32, kami beri tema : Hukuman  dan Keadilan TUHAN, yang diuraikan dengan tiga sub tema sebagai berikut :

1). Hukuman TUHAN, dilaksanakan atas dasar kebenaran fakta yang akurat (ayat 20-21)

             Dua orang utusan TUHAN ditugaskan menginspeksi atau melihat dan merasakan secara langsung tentang laporan-laporan yang sampai kepada TUHAN, bahwa "sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya. Karena itu TUHAN berfirman baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya" (ayat 20-21).
          Kedatangan TUHAN melalui utusan-Nya yang dua orang ke Sodom dan Gomora, menunjukkan betapa TUHAN sangat menginginkan objektivitas, keakuratan dan kebenaran yang sebenar-benarnya, tentang laporan-laporan (keluh-kesah) yang sampai kepada TUHAN. TUHAN, melalui utusan-Nya blusukan, untuk memastikan situasi, agar Ia dapat menentukan tindakan apa yang harus dilakukan terhadap manusia yang diinspeksi. Cobalah dibayangkan, bahwa TUHAN yang mahatahu itu butuh akurasi laporan dan ingin melihat langsung tentang benar tidaknya kelakuan jahat orang-orang Sodom dan Gomora.
          Kalau TUHAN butuh yang begitu, tentu saja semua jajaran-Nya atau teman sekerja-Nya di bumi, harus memperhatikan aspek akurasi dan kebenaran yang sebenar-benarnya, tentang informasi berbagai permasalahan yang terjadi, sebelum mengambil keputusan dan tindakan yang diperlukan. Hal seperti itu sangat dibutuhkan oleh setiap pribadi pelayan, gembala, pemimpin, keluarga, dan kelompok, sehingga setiap keputusan dan tindakan yang diambil benar-benar objektif, didasarkan atas kebenaran yang akurat dan bukan sebuah rekayasa. Itu hal pertama yang diajarkan oleh kebenaran firman TUHAN kepada kita pada hari ini.

   2). Hukuman TUHAN, didasarkan atas kasih dan keadilan-Nya (ayat  22-23/24-32)
  
             Percakapan di bagian ini, disampaikan sangatlah serius. Masalahnya menyangkut keadilan TUHAN. Apakah adil memusnahkan orang yang tak bersalah, walau hanya sedikit, bersama-sama dengan banyak orang yang bersalah? Dan apakah orang-orang yang tak bersalah cukup berarti untuk mencegah penghancuran orang-orang jahat? Ketegangan dalam pembicaraan itu tercipta karena Abraham, yang menaruh hormat kepada Tuhan, berani berdebat dan mendesak Tuhan.
             Abraham ingin tahu apa pendapat dan tindakan TUHAN terhadap Sodom dan Gomora, sehubungan dengan rencana untuk menghukum dan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik. Maksudnya, dengan penuh kesopanan dan hormat, Abraham mempertanyakan keadilan TUHAN dan membujuk TUHAN  memberlakukan keadilan dan belas kasihan-Nya. Karena itu Abraham bertanya kepada TUHAN : “Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik?” (ayat 23b). TUHAN menjawab, bahwa kalau ada orang benar sebanyak batas minimal yang disebutkan Abraham, yaitu 10 orang saja (ayat 32), maka penduduk kota itu seluruhnya  tidak akan dilenyapkan. Dari jawaban TUHAN tersebut sangatlah jelas, betapa besarnya kesabaran, hasrat dan kemurahan TUHAN mau membatalkan hukuman yang direncanakan-Nya atas Sodom dan Gomora, jika tercapai batas minimal seperti  permintaan Abraham.
          Tapi ternyata, hanya empat orang yang terhitung sebagai orang benar yang ada di kalangan penduduk Sodom dan Gomora (yakni Lot, isterinya dan dua orang putrinya). Mereka terdiri dari rakyat kecil, yang tidak punya pengaruh terhadap penduduk kota itu. Sehingga kehadiran mereka di kota itu tidak mencukupi untuk mencegah pemusnahan yang sedang diancamkan kepada Sodom dan Gomora. Akhirnya, Hukuman dan Keadilan TUHAN dinyatakan, yaitu : Sodom dan Gomora harus dilenyapkan dari muka bumi, dan oleh kemurahan TUHAN 4 orang keluarga Lot yang dianggap benar diselamatkan. Tapi sayangnya, isteri Lot pun tidak jadi selamat karena ia tidak mentaati persyaratan keselamatan yang ditetapkan TUHAN ketika mereka sedang dievakuasi; sehingga di tengah perjalanan ia menjadi tiang garam (baca Kej 19:17b, 26).
          Biarlah ini menjadi peringatan bagi kita, agar kita selalu takut dan hormat kepada TUHAN, karena Ia adalah Allah yang akan mengadili semuanya tanpa membeda-bedakan orang (baca II Kor 5:10 dan Kis 10:34b-35).

3). Diperlukan kepedulian terhadap keselamatan orang lain (ayat 24-32)

             Percakapan di bagian ini, ditandai dengan tawar-menawar yang cukup menarik. Walau kelihatannya seperti main-main, tetapi yang mau disampaikan sangatlah serius. Abraham ingin tahu, berapa jumlah orang benar yang harus ada di Sodom dan Gomora, agar penduduk kota itu tidak dimusnahkan. Abraham dengan terang-terangan mencoba untuk memperkecil jumlah orang benar yang diperlukan untuk menyelamatkan kota itu.
             Dia berani melakukan itu, karena dia tahu, bahwa TUHAN itu maha pengampun dan maha penyayang. Abraham juga tahu, bahwa TUHAN tidak akan memurkai dirinya, kalau dia menghalangi TUHAN menghukum Sodom dan Gomora. Dan kalaupun dirinya sendiri dihukum oleh TUHAN, sebagai ganti Sodom, kalau TUHAN tersinggung dan marah, karena dia menghalangi TUHAN melakukan niat-Nya itu, Abraham siap dan rela menanggung risiko, asalkan penduduk Sodom dan Gomora diampuni oleh TUHAN.
          Karena itu, Abraham bertanya kepada TUHAN, bagaimana kalau ada 50, atau 45, atau 40, atau 30, atau 20, atau 10 orang  yang benar di Sodom dan Gomora, apakah TUHAN melenyapkan mereka bersama penduduk yang fasik di sana?. Selanjutnya Abraham memohon : “Jauhkanlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jaukanlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?” (Kej 18:25). Abraham sangat peduli terhadap keselamatan Sodom dan Gomora.
           Karena itu Saudara, dari kita sangat diperlukan kepedulian yang tulus seperti Abraham. Marilah kita peduli terhadap keselamatan orang-orang lain. Jangan hanya memikirkan rasa aman dan selamat diri sendiri, tetapi marilah kita terus-menerus berdoa dan meminta dengan sungguh-sungguh kepada TUHAN untuk keselamatan orang lain. Supaya setiap orang yang jahat, orang yang keras hati, pemarah, pedendam dan seterusnya, segera mengambil langkah untuk bertobat, berhenti melakukan dosa, dan kembali hidup sesuai dengan kehendak TUHAN, sehingga hukuman yang direncanakan Tuhan bagi mereka, dibatalkan-Nya. Amin.


Senin, 27 Juni 2016

HIDUP BERPADANAN DENGAN PANGGILAN KITA


Renungan pada Kebaktian bulananUmat Kristiani
Kompleks Perumahan Pondok Indah
Batam Centre - BATAM
Mg, 26 Juni 2016, dilayani Pdt. Sudiaro Laiya

HIDUP BERPADANAN DENGAN PANGGILAN KITA
Efesus 4 : 1-2, I Petrus 2:9-10
Nats

“Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu. Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.”

Uraian dan Penerapan

Pada waktu saya belajar di Sekolah Teologi, kami diharuskan tinggal di asrama. Para mahasiswa yang belajar di teologi terdiri dari satu jenis kelamin saja, semuanya laki-laki, karena zaman itu gereja pendiri Sekolah Teologi tersebut, belum menerima perempuan menjadi Pendeta.

Kami sering dikumpulkan dan berkali-kali diberi ceramah bagaimana cara hidup sebagai mahasiswa Teologi/calon hamba Tuhan, diantaranya :
Ø  Kalau masuk kamar teman harus sopan, ketok pintu terlebih dahulu.
Ø  Sedapat mungkin jangan sampai berutang.
Ø  Menghormati orang yang lebih tua.
Ø  Bersabar walaupun dikritik.
Ø  Hati-hati berbicara tentang uang dan fasilitas.
Ø  Kalau makan jangan rakus.
Ø  Dan ;lain-lain.

Ada banyak ajaran yang disarankan untuk kami lakukan, agar hidup kami  sepadan dengan panggilan (status) sebagai calon hamba Tuhan.

Menjadi hamba Tuhan adalah panggilan, karena itu ia harus hidup sepadan dengan panggilannya sebagai hamba Tuhan. Menjadi pengikut Kristus juga sebagai panggilan, bukan warisan nenek moyang. Karena itu kita harus hidup sepadan dengan panggilan kita sebagai pengikut Kristus.

Kalau kita perhatikan apa yang tertulis dalam I Petrus 2:9-10, panggilan seperti itu dijelaskan demikian : “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib : kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu kamu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.”

Dari kedua ayat tersebut, panggilan kita digambarkan sebagai berikut :

  1. Dahulu kita bukan umat Allah, tetapi sekarang kita dipanggil menjadi umat Allah.
  2. Dahulu kita termasuk orang-orang yang tidak dikasihani, tetapi sekarang kita dipanggil menjadi orang-orang yang beroleh belas kasihan.
  3. Kehidupan yang dahulu tersebut digambarkan sebagai kehidupan dalam kegelapan dosa, tetapi setelah Allah memanggil kita keluar dari sana, maka sekarang kita menjadi orang-orang yang hidup dalam terang Kristus.
Saudara, karena kita dipanggil menjadi anak-anak terang, menjadi umat Allah dan menjadi orang-orang yang sudah beroleh belas kasihan, maka rasul Paulus mengajak kita, supaya hidup kita berpadanan dengan panggilan itu (Rm 4:1).

Lalu hidup seperti apa itu?
Pada ayat berikutnya (Rm 4:2) Paulus menjelaskan Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Berdasarkan ayat ini, ada 4 macam sikap hidup yang sepadan dengan panggilan tersebut, sebagai berikut :

  1. Rendah hati.
  2. Lemah lembut.
  3. Sabar dan
  4. Kasih yang aktif dan berinisiatif.
Sikap-sikap ini adalah susah-susah gampang. Mengapa? Karena keempat macam sikap tersebut, sangat mudah dimengerti dan dipahami, tetapi sangat sukar untuk dilakukan. Kita semua tahu dan mengerti apa itu rendah hati, tahu juga bagaimana bersikap lembut, juga mengerti apa arti kesabaran dan kasih, tapi untuk bisa memiliki sikap-sikap itu secara sempurna, sangatlah susah.

Namun, hari ini firman tuhan menuntut agar sikap-sikap seperti itu harus kita miliki dan selalu menjadi pola hidup kita kapan dan dimana saja. Caranya mulai dari hal yang sederhana, misalnya :

Pertama, Bersikap rendah hati. Ketika mungkin kita menjabat posisi yang lebih tinggi dalam bidang kita, kita tetap rendah hati dan menyadari bahwa itu semua hanya anugerah Tuhan. Karena itu kita tidak boleh menyombongkan diri dan merasa diri lebih baik, lebih hebat dan lebih penting dari orang lain.

Kedua, Bersikap lemah lembut. Lebih baik kita dikenal sebagai seorang yang berhati lembut dari pada terkenal sebagai orang yang angkuh dan kasar.

Ketiga, Bersikap sabar. Ketika kita menghadapi banyak tantangan, dan mungkin ada orang yang bertindak tidak adil terhadap diri kita, kita tetap sabar. Ingat bahwa “orang sabar kasihan Allah.”

Keempat, Hal yang terakhir yang diminta kepada kita adalah supaya setiap kita, menunjukkan KASIH dalam hal saling membantu. Mempraktekkan kasih dalam hal saling membantu sangat penting dan wajib dilakukan. Mengapa? Karena setiap tindakan kasih kita, akan dapat menyatakan kasih Kristus kepada dunia yang haus akan kasih itu. Kasih itu harus ditunjukkan secara aktif dan berinisiatif. Artinya, apakah orang lain bersikap baik atau tidak kepada kita, apakah orang itu kawan atau lawan, tidak perlu dipersoalkan. Yang penting, kita harus dengan aktif bertindak dan mengambil inisiatif memulai menunjukkan kasih kepada mereka. Kasih memang membutuhkan pengorbanan, dan semakin banyak pengorbanan maka kasih itu akan bernilai sangat kuat.

Kristus sendiri menunjukkan kasih-Nya kepada kita secara aktif, dan Ia sendiri yang berinisiatif untuk datang kedunia menyelamatkan hidup kita. Kasih-Nyapun penuh dengan pengoranan, dimana Ia memberikan diri-Nya sendiri untuk mati di kayu salib, menebus kita dari hukuman dosa. Oleh karena itu, jika Dia yang telah memanggil kita menjadi umat-Nya, melakukan kasih yang penuh pengorbanan untuk kita dan dunia ini, maka kitapun wajib melakukan kasih seperti demikian kepada sesama.

Ada ungkapan seorang ibu suci dari gereja Katolik bernama Ibu Theresa mengatakan : “Wabah terbesar zaman ini bukanlah kelaparan makanan tetapi kelaparan akan kasih sayang.” Memang, … banyak orang yang membutuhkan uluran tangan kita, dan kasih kita. Karena itu mari kita menunjukkan kasih itu dengan hidup saling membantu dan memberi pertolongan kepada orang yang membutuhkan.

Kesimpulan

Oleh karena itu Saudara, mari kita menjadikan hidup kita sepadan dengan panggilan kita. Milikilah kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran dalam menjalani segala sesuatu. Dan aktiflah mengasihi sesama, walaupun harus dijalani dengan penuh pengorbanan. Biarlah kita menjadi orang-orang yang berkenan di hadapan Tuhan, dengan kesepadanan hidup yang kita tunjukkan kepada sesama dan dunia sekitar kita. Amin.

Rabu, 08 Juni 2016

Renungan : JAWABAN ATAS TAKUT

Jawaban Atas Takut
Keluaran 15:19-21
I. Nats

Ketika kuda Firaun dengan keretanya dan orangnya yang berkuda telah masuk kelaut, maka TUHAN membuat air laut berbalik meliputi mereka, tetapi orang Israel berjalan di tempat kering dari tengah-tengah laut. 
Lalu Miryam, nabiah itu, saudara perempuan Harun, mengambil rebana di tangannya, dan tampillah semua perempuan mengikutinya memukul rebana serta menari-nari. 
Dan menyanyilah Miryam memimpin mereka : "Menyanyilah bagi TUHAN, sebab Ia tinggi luhur; kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut."

II. Perenungan

Bagaimana perasaan kita jika dikejar anjing gila? Tentu akan panik dan ketakutan. Lalu apa jadinya jika ternyata kita malah masuk ke jalan yang buntu? Apa yang akan kita lakukan. Mungkin kita akan teriak sekuat tenaga minta pertolongan. Ketakutan akan semakin besar dirasakan saat keadaan kita semakin terpojok.

Bangsa Israel juga mengalami ketakutan yang kurang-lebih sama saat mereka terpojok. Dalam perjalanan keluar dari Mesir ternyata mereka dikejar oleh Firaun beserta pasukannya yang siap membunuh. Ketakutan mereka semakin memuncak ketika sadar bahwa di hadapan mereka adalah jalan buntu, yaitu laut Taberau. Ada yang marah kepada Musa karena keadaan tersebut, lalu kemudian TUHAN membuka jalan bagi mereka dengan cara yang ajaib. Diluar bayangan mereka, TUHAN membelah laut itu. Mereka dapat melewati bagian laut yang kering, sedangkan Firaun dan pasukannya ditenggelamkan di dalamnya. Peristiwa inilah yang kemudian membuat orang Israel bersyukur kepada Tuhan. Mereka menyanyi dan menari bagi Tuhan atas kebesaran-Nya. Tuhan telah menjawab ketakutan mereka.

Perasaan takut terjadi karena kita tidak tahu apa yang sedang kita hadapi dan di dalamnya banyak orang yang kurang percaya mengambil jalan tidak bijak. Di tengah pergumulan, seringkali kita meragukan Tuhan, lalu mempersempit kuasa-Nya.
Percayalah Tuhan, kita tidak akan dapat dibatasi oleh apapun. Ia berkuasa di atas segalanya, termasuk pergumulan dan ketakutan kita. Berserah adalah tindakan yang paling benar dalam menghadapi pergumulan sambil tetap melaksanakan segala tugas panggilan dan pengutusan dengan baik. Renungkanlah, bahwa segala pergumulan kita tidak lebih besar dari pada kasih dan kuasa Tuhan. Percayalah kepada-Nya dan bersyukurlah melalui sikap hidup yang benar di hadapan-Nya.

Batam, 8 Juni 2016
Pdt. Sudiaro Laiya
SBU Juni 2016 L.S/lph.